Minggu, Februari 20, 2022

526 ㅡ Ingatlah, kamu sangat dicintai semesta.

Ingatlah, setiap hujan akan kembali reda pada akhirnya. Ingatlah, setiap malam akan selalu bertemu pagi yang berbeda. Ingatlah, berusaha secukupnya dan berjuang semampunya. Ingatlah, kamu sangat dicintai semesta. Ingatlah, kamu selamanya diberkati dan pantas bahagia.

Salam hangat,
Senjakala.

Sabtu, Februari 19, 2022

525 ㅡ Terima kasih sudah berjuang sejauh ini.

Terima kasih sudah berjuang sejauh ini. Tetaplah menjadi dirimu yang murah hati. Tetaplah menjadi dirimu yang pengasih. Tetaplah menjadi dirimu yang setulus hati memancarkan cahaya kasih. Jangan takut untuk berekspresi. Jangan khawatir untuk mencoba lagi.

Salam hangat,
Senjakala.

Jumat, Februari 18, 2022

524 ㅡ Sebisamu saja, ya?

Senjakala mengangguk mantap dengan senyuman sumringah menghiasi wajahnya. Kedua tangan yang terkepal pun diangkat. Sang pemeran utama kisah sudah siap berjuang melawan pahitnya semesta monokrom demi mencari satu per satu warna pelangi yang tersembunyi.

O, Senjakala.
Sebisamu saja, ya?

Salam hangat,
Senjakala.

Kamis, Februari 17, 2022

523 ㅡ Jadilah seniman yang serupa dengan gambaranmu sekarang.

Aku terdiam sejenak. Mencerna impian Senjakala tidaklah mudah, sebab kini aku perlu memutar otak untuk memberi semangat hati mungilnya.

"Jadilah seniman yang serupa dengan gambaranmu sekarang," kataku pelan. "Tidak akan ada yang sia-sia, karena kebahagiaan pasti menjadi hadiah."

Salam hangat,
Senjakala.

Rabu, Februari 16, 2022

522 ㅡ Aku ingin bercerita menggunakan hati dan untuk menyentuh hati.

"Kenapa?"

"Aku ingin bercerita menggunakan hati dan untuk menyentuh hati," ujar Senjakala lirih. "Aku berbeda dengan mereka yang memilih tunduk pada angka. Aku ingin mencintai setiap karya yang tercipta dari jiwa bersahaja. Aku ingin menjadi seniman yang punya hati luar biasa."

Salam hangat,
Senjakala.

Selasa, Februari 15, 2022

521 ㅡ Mereka sama sekali tidak jelek.

Aku berdeham. Bukan, bukan karena aku terkejut, melainkan karena udara dingin mulai merambat masuk melalui mulut hingga tenggorokanku sakit.

"Mereka sama sekali tidak jelek," lalu Senjakala mengibaskan sebelah tangannya ke arahku. "Hanya saja aku tidak ingin menjadi seperti mereka."

Salam hangat,
Senjakala.

Senin, Februari 14, 2022

520 ㅡ Mereka hidup dalam seni, dan itu yang aku cari.

Aku mendengarkan tiap-tiap kata yang terangkai menjadi kalimat-kalimat utuh dari Senjakala dengan penuh perhatian.

"Mereka hidup dalam seni, dan itu yang aku cari," lanjut Senjakala. "Aku pernah menemukan ada orang di puncak gunung yang gemar melontarkan kata-kata palsu dan ambigu."

Salam hangat,
Senjakala.

Minggu, Februari 13, 2022

519 ㅡ Hati mereka yang ingin aku sentuh, sebisaku, dan dengan caraku.

"Sasaranku bukan mereka yang ada di puncak gunung atau di dalam gawang, melainkan mereka yang hidup di langit luas, batu keras, dan laut lepas. Hati mereka yang ingin aku sentuh, sebisaku, dan dengan caraku," cerita Senjakala, "sebab aku tahu, orang-orang seperti itu mengenal seni."

Salam hangat,
Senjakala.

Sabtu, Februari 12, 2022

518 ㅡ Udara dingin kian menusuk tulang.

"Oh," dan hanya itu yang lolos dari bibirku. Aku tersenyum, sebab tahu betul dalam beberapa detik saja Senjakala akan mulai menjelaskan jawaban yang aku minta.

Senjakala tertawa sebelum mendongak. Udara dingin kian menusuk tulang, tetapi kami masih setia berteman dengan padang gelagah.

Salam hangat,
Senjakala.

Jumat, Februari 11, 2022

517 ㅡ Memang apa yang ingin kamu dapatkan?

"Memang apa yang ingin kamu dapatkan?" tanyaku penasaran.

Senjakala berbalik dan menatapku dengan sepasang mata yang tegas. "Aku ingin bebas," katanya dengan lugas.

"Bebas yang seperti apa?"
"Bebas bercerita dengan caraku."
"Seperti apa caramu itu?"
"Seperti—masih rahasia, hehe."

Salam hangat,
Senjakala.