Sabtu, November 20, 2021

434 ㅡ Permisi.

Permisi, wahai pujangga semesta.

Ada apa gerangan mampir ke hati sini?
Apakah ada yang bisa aku dengarkan?
Adakah tangan yang bisa kugenggam?

Salam hangat,
Senjakala.

Jumat, November 19, 2021

433 ㅡ Manis.

Adakalanya napas ini habis,
hanya karena sedih tipis-tipis.

Adakalanya rasa itu manis,
... iya, karena kamu, Manis.

Salam hangat,
Senjakala.

Kamis, November 18, 2021

432 ㅡ Rehat.

Pada rehat, aku bersumpah sepenuh hati;
tak akan biarkan diri terbuai berulang kali,
oleh mereka yang hanya tahu cara berlari.

Salam hangat,
Senjakala.

Rabu, November 17, 2021

431 ㅡ Depan.

Pada masa depan, aku berupaya sekuat tenaga;
jadi senja untuk cinta yang kandas tanpa arah,
jadi pelita untuk semesta yang bersusah payah.

Salam hangat,
Senjakala.

Selasa, November 16, 2021

430 ㅡ Janji.

Pada janji, aku merenung sedalam-dalamnya;
jika suatu hari nanti datang seorang pujangga,
benarkah bisa aku pastikan hati siap untuknya?

Salam hangat,
Senjakala.

Senin, November 15, 2021

429 ㅡ Hati.

Pada hati, aku berteriak sekencang-kencangnya;
ke manakah perginya cinta yang dulu berapi-api,
yang kesetiannya tidak perlu diragukan lagi-lagi?

Salam hangat,
Senjakala.

Minggu, November 14, 2021

428 ㅡ Logika.

Pada logika, aku bertanya sekeras-kerasnya;
mungkinkah masih ada di sudut terdalam sana,
sebuah bahu untuk aku bersandar ketika lelah?

Salam hangat,
Senjakala.

Sabtu, November 13, 2021

427 ㅡ Rumah.

Teruntuk kamu;
petrikor senja yang aku damba,
panorama hujan yang aku cipta,
semua bahagia yang jadi rumah.

Jangan lari lagi,
tetaplah di sini.

Dari aku,
penikmat rindu yang terselubung,
puan yang bersedih tanpa ujung,
harap ada yang sedia berkunjung.

Bukan hanya mampir dan hampir,
tapi selalu setia jadi yang terakhir.

Salam hangat,
Senjakala.

Jumat, November 12, 2021

426 ㅡ Meraki: Sampai jumpa lagi.

Bagai lupa bagaimana cara bicara, aku mematung di tempat dengan leher tercekat dan lidah yang sudah sedari tadi kelu. Aku kehabisan aksara untuk aku rangkai menjadi pinta-pinta lain.

Bukan hanya tanganku yang genggam tanganmu, tapi aku berusaha genggam hatimu juga. Meski begitu, bisa aku rasakan kamu enggan berikan aku waktu untuk berusaha genggam hatimu. Rasa janggal yang meluap-luap buat aku sama sekali tidak mau kamu pergi tinggalkan aku walau kamu katakan akan kembali. Entah mengapa, aku temukan nada dusta di sana. 

Barangkali aku egois. Iya, aku putuskan menjadi egois demi kamu.

Aku bahkan tidak mampu balaskan ucapan sampai jumpa dengan jaga dirimu baik-baik, atau jaga kesehatanmu, atau jangan lupakan aku, atau apa pun.

Aku tidak tahu; ini karena kamu tidak beri aku kesempatan itu, atau memang akulah yang kalah dari keberanianku sendiri. Aku yang sejatinya tidak pernah diberikan ruang untuk bahagia satu kali pun.

Hanya dengan satu tarikan, tanganmu terlepas dari genggamanku. Runtuhlah sudah semestaku. Aku hanya mampu pandangi lantai kamarku dengan tatapan nanar. Kosong, tidak ada cahaya apa pun di sana. Hanya tersisa kamarku yang sudah berisikan aroma tubuhmu, seprai putih yang tidak beraturan karena pernah ada kamu di atasnya, dan air jeruk manis yang tidak akan pernah semanis dulu.

Aku sedih.

Seperempat bagian dari kesedihan ini memang karena aku yang terluka akibat sudah bersikeras meminta kamu tinggal di saat kita bukan apa-apa. Aku bukan siapa-siapa. Iya, dan sepenuhnya aku katakan; aku terluka karena diriku sendiri. 

Satu, dua, tiga tarikan napas aku ambil dan aku loloskan bersama rintik air yang basahi pelupuk mataku. Biar aku jadi cengeng untuk sejenak saja usai kamu lenyap dari pandanganku.

Aku kepalkan kedua tangan; berpegang pada asa, barangkali besok kamu benar kembali. Pada akhirnya, di sela-sela hujan deras yang tiba-tiba guyur ruangan kamarku, aku titipkan harapan dan selipkan namamu di dalam doa.

"Sampai jumpa lagi." Lirih, aku bergumam dalam satu tarikan napas. "Aku harap semua akan baik-baik saja."

Salam hangat,
Senjakala.

Kamis, November 11, 2021

425 ㅡ Meraki: Jangan tinggalkan aku.

Jantungku berpacu begitu cepat.

Pertama, karena kamu selalu mampu memberikan aku sesuatu yang buat aku dan jantung tidak bersahabat baik. Jantung berpacu tanpa aba-aba dariku, namun aku teramat sangat menikmati setiap dentuman yang dihasilkan.

Kedua, karena aku khawatir. Aku cemas kalau pada akhirnya aku membuat suatu keputusan yang salah; di mana ini menjadi akhir dari kisah yang bahkan belum sempat aku mulai sama sekali.

Kata maaf tidak lagi terasa menenangkan, malah terdengar bagai tersimpan berjuta arti yang buat aku sesak napas hingga berniat kehilangan kesadaran, dan berharap dengan ini kamu tidak jadi tinggalkan aku ke mana pun langkah membawamu pergi.

Aku serela itu. Aku rela menyakiti diriku sendiri demi mencegah kamu pergi, tapi tampaknya lidahku terlalu kelu untuk sampaikan apa pun. Aku tidak tahu harus mencegatmu dengan cara apa lagi. 

Kecupan yang kamu buahkan pada keningku terasa asing. Aku tidak bisa rasakan manis yang semula basahi birai ranumku beberapa saat lalu. Pesan yang kamu ucapkan tidak buat aku tenang. Aku kalang kabut. Aku harus apa lagi? Aku tidak tahu.

Akhirnya di tengah kekalutan yang aku rasakan, aku tuturkan satu kalimat dengan begitu lirih, "Jangan tinggalkan aku."

Bersama dengan ungkapan hati itu, aku meraih tanganmu; mencengkram pergelangan tanganmu kuat-kuat. Aku tidak mau kamu pergi. Barangkali aku diperkenankan untuk sedikit egois, manja, dan apa pun ciri khas seorang anak kecil yang sedang berusaha membuat kebahagiaan tetap tinggal di sisiku. Aku pula mengecup punggung tanganmu.

Salam hangat,
Senjakala.