Jumat, April 30, 2021

230 ㅡ Jangan lupa selalu berbagi kebahagiaan.

Ingatlah, hidup bukan melulu soal pasangan.
Tidak perlu kecewa, tak miliki pegangan.

Kita diciptakan berpasang-pasangan,
jadi jangan lupa selalu berbagi kebahagiaan.

Salam hangat,
Senjakala.

Kamis, April 29, 2021

229 ㅡ Seumpama gelas yang pecah.

Seumpama gelas yang pecah,
kepercayaan sudah tidak ada.

Jangan harap ada aku lagi;
karena aku sudah jauh berlari.

Salam hangat,
Senjakala.

Rabu, April 28, 2021

228 ㅡ Jaga jarak aman, jangan sampai terluka.

Hari ini aku disadarkan,
bahwa aku harus jaga jarak aman.

Jangan gegabah pada cinta,
sebab pada akhirnya aku akan terluka.

Salam hangat,
Senjakala.

Selasa, April 27, 2021

227 ㅡ Aku harap kamu tidak pernah merasakan kecewa dan patah yang sesungguhnya.

Teruntuk Senjakala (2031),

Teruntuk kamu,
Selamat berbahagia walau tidak denganku.

Hai, apa kabar?

Sudah lama tidak bersua, ya. Kamu masih sama? Tidak berubah?

Ah, seharusnya aku tidak bertanya seperti itu. Kamu tidak lagi sama seperti dulu. Kamu ... sudah berubah.

Tanganmu sudah tidak lagi menggenggam milikku. Aku juga sudah tidak lagi berada di hatimu, walau di sudut sekali pun. Jadi, tidak seharusnya aku mempertanyakan perubahan dalam hidupmu.

Sejak terakhir kali kita berjumpa, aku membangun benteng pertahanan. Semua itu aku lakukan agar aku tidak perlu lagi berurusan dengan yang namanya cinta. Aku menutup pintu, tidak mempersilakan satu orang pun untuk masuk. Aku mengunci diri, memberanikan diri untuk berdiri sendiri. 

Namun, setelah aku kira, aku sudah biasa-biasa saja jika dipertemukan kembali denganmu, semesta buat itu jadi nyata.

Lucu, ya ... kita dipertemukan begitu saja, tanpa ada aba-aba. Oleh karena itu, hatiku yang sempat aku kira sudah siap, ternyata masih butuh waktu untuk merelakan dan melupakan.

Terlebih, kita dipertemukan di saat kamu sudah bahagia.

Jika kamu bertanya tentang hatiku, aku hanya bisa menjawab: Aku juga sempat bertanya kepada Tuhan, kenapa semua orang yang pernah menyayangi aku, begitu mudah melupa dan menemukan yang baru?

Kali ini, izinkan aku yang bertanya, boleh?

Mengapa kamu cepat sekali melupa? Mengapa kamu buat aku merasa seakan aku sangat mudah dilupakan? Mengapa semudah itu kamu menemukan seseorang yang lebih baik dariku? Mengapa bisa-bisanya kamu bahagia duluan daripada aku?

Biarkan aku egois, biarkan aku menangis. Aku ini terpenjara sejak kita berpisah, tetapi kamu dengan enaknya berusaha mencari seseorang baru untuk menggantikan aku.

Kalau boleh jujur, aku tidak terima. Aku sangat kecewa, semudah itu kamu genggam tangan yang baru. Semudah itu, kamu peluk dia yang baru. Semudah itu, kamu berusaha menulis kisah yang baru.

Sedangkan aku? Aku masih bergulat dengan pikiranku sendiri untuk mencari cara melupa yang sebenar-benarnya. Aku masih berusaha menemukan seberkas cahaya yang setidaknya bisa menarik diriku keluar dari benteng pertahanan.

Namun, aku tidak terburu-buru. Sedikit demi sedikit, selangkah demi selangkah, aku jalani agar aku bisa berdiri sendiri dengan lebih berani. Tapi, berbanding terbalik dariku, kamu dengan cepatnya sudah memulai lembaran baru dengan kesayangan yang baru.

Menurutmu, bagaimana perasaanku? Ya, aku memang bukan siapa-siapa lagi. Tapi aku pernah jadi bagian dari masa lalumu. Seseorang yang terluka demi mengajarkan arti cinta yang sesungguhnya kepadamu yang saat itu masih sangat keras kepala.

Semoga kisahmu kali ini tidak perlu berdarah untuk bisa bersama. Semoga jalanmu kali ini tidak perlu ada aku yang lainnya untuk menyadarkanmu bahwa kesabaran ada batasnya.

Semoga tidak ada lagi air mata yang menjadi teman kala sunyi menyapa. Semoga kata Sayang yang kamu ucapkan padanya, lebih besar maknanya dari ketika bersamaku. Semoga tidak ada lagi perpisahan yang buat kamu kehilangan.

Ungkapan hati ini tidak berarti apa-apa. Aku tidak memintamu untuk mengasihani aku, atau meminta kamu kembali padaku. Aku hanya ingin menyampaikan kekecewaanku atas apa yang terjadi.

Setidaknya, aku tahu, kamu tidak benar-benar serius. Aku tahu, kamu semudah itu melupa. Ah, atau aku yang semudah itu terganti?

Sama saja.

Mungkin aku yang banyak kurangnya. Mungkin aku yang banyak lelahnya. Mungkin aku memang seharusnya dilupakan. Mungkin aku memang seharusnya tidak pernah mencintai siapa pun. Aku yang salah, karena sudah pernah menaruh harapan di pundakmu yang sebenarnya tidak pernah paham apa arti berjuang bersama. Aku yang salah, karena sudah pernah berusaha mempertahankan kamu yang ternyata terlalu mudah mencinta dan melupa.

Biarkan ini menjadi pelajaran untukku, agar tidak lagi keliru ketika dihadapkan pada orang-orang yang serupa dan kata cinta yang diungkapkan dengan mudah. Semoga aku, kamu, dia—setiap dari kita berbahagia.

Lagi-lagi aku pergi dengan kecewa yang bertubi, di saat aku hampir hidup lagi. Mungkin, aku memang butuh luka yang lebih banyak untuk bisa bahagia. Atau, mungkin aku butuh berhenti sejenak dari bisingnya kata cinta yang selalu buat aku kecewa.

Sudah saatnya aku berhenti menjaga perasaanmu, karena kamu tidak melakukan hal yang sama. Sudah saatnya aku berhenti menyenangkan diri dengan mengatakan; kamu paling bahagia ketika bersamaku. Sudah saatnya aku berhenti melukai diri dengan menunggu kehadiranmu untuk mengatakan; kamu merindukan aku.

Kini aku sudah merelakanmu pergi, karena aku juga akan berjalan jauh dari kehidupanmu. Aku tidak akan lagi bertegur sapa, menanyakan kabar, dan terlebih, aku tidak akan lagi memikirkanmu barang sejenak.

Biar aku menenangkan hati untuk masa depan yang lebih baik. Biar aku menyimpan segala kenangan yang tidak lagi berarti untuk kita. Biar aku meninggalkan semua luka yang sering buat tangis jatuh tanpa sengaja.

Tenang, untuk pertama dan terakhir kalinya, aku ucapkan; selamat berbahagia. Dari lubuk hatiku yang terdalam, aku berharap kamu tidak pernah merasakan kecewa dan patah yang sesungguhnya.

Dari Senjakala (2021).

Senin, April 26, 2021

226 ㅡ Aku, pandai terluka, susah melupa, dan tidak bijaksana dalam cinta.

Teruntuk Senjakala (2031),

Beberapa hari belakangan ini, rasanya aku kembali mengingat memori yang sudah lama terlupakan. Aku sengaja melupa, agar tidak jatuh lagi ke luka yang sama. Bahkan, aku sempat membangun benteng pertahanan selama enam bulan terakhir, agar tidak ada lagi air mata yang mengalir basahi wajah.

Namun, semua itu sia-sia ketika semesta mempertemukan aku kembali dengan dia yang pernah mampir, membuahkan kata hampir yang pada akhirnya hanya buat hancur. Aku tidak pernah membayangkan, kami bisa dipertemukan lagi semudah ini. Aku tidak pernah menduga, kami bisa mendengar suara masing-masing semudah ini. Aku tidak pernah merasakan seingin hancurnya seperti sekarang ini sebelumnya.

Bohong, memang ... kalau aku bilang sudah lupa. Tetapi jujur saja, aku masih mengingat semua kenangan manis yang membekas di hati, pula memori pedih yang selalu buat hati menangis. Ada sedikit perasaan senang, ketika aku bisa mendengar suaranya lagi. Ada sedikit perasaan lega, karena sudah bisa bersikap biasa-biasa saja.

Tapi, salahkah jika aku masih merindu?

Aku masih rindu dengan ucapan selamat tidur yang setiap malam dia sampaikan padaku. Aku masih rindu dengan panggilan Sayang yang dia bubuhkan di akhir kalimat. Aku masih rindu dengan segala bentuk gerakan kecil yang dia lakukan untuk menarik perhatianku.

Aku rindu harum tubuhnya. Aku rindu pelukan hangatnya. Aku rindu kecupan di kening yang dia lakukan setiap merindukanku.

Bagaimana aku bisa lupa, jika semua itu masih berputar di kepalaku sampai sekarang?

Bagaimana aku tidak membangun benteng pertahanan, jika dia begitu menyayangi aku kala kita masih bersama?

Namun, kali ini harus aku sampaikan; semesta pertemukan aku untuk membuat aku kembali menguatkan benteng pertahananku, sebab selama kami dipertemukan kembali, aku mulai lengah. Aku mulai dengan tidak bijak mempersilakan dia untuk lagi-lagi memorak-porandakan hatiku.

Semua hal manis yang dia lakukan, kini sudah menjadi kenangan. Bahkan, tangannya yang dulu menggenggam erat milikku, sudah berpindah menggenggam tangan perempuan lain. Aku yakin, pasti lebih erat dari ketika dia bersamaku.

Hanya saja, aku merasa bodoh. Beberapa hari ini, aku sempat gundah, memikirkan berbagai hal yang tidak berarti. Kini, aku disadarkan semesta dengan kenyataan, bahwa dia sudah bahagia.

Sungguh, aku kecewa. Dia tidak pernah tahu seberapa dalam aku terjatuh, seberapa sakit aku terluka, dan seberapa jauh aku melangkah untuk tidak lagi mengenal cinta sejak kepergiannya.

Bagaimanapun, aku hanya bagian dari masa lalu yang harus dilupakan secepat mungkin. Iya, bukan?

Bagaimanapun, aku hanya seorang perempuan yang pandai terluka, susah melupa, dan tidak bijaksana dalam cinta.

Hari ini aku banyak menangis. Air mata mengalir tanpa permisi, karena badai hati mulai berkumandang; mengatakan tidak ingin lagi berjuang.

Jika diperbolehkan sampaikan beberapa kata perpisahan, izinkan aku menangis untuk terakhir kalinya sebelum aku kembali bangkit dengan lebih tegar.

Dari Senjakala (2021).

Minggu, April 25, 2021

225 ㅡ Sudah terganti, harus apa lagi?

Teruntuk Senjakala (2031),

Malam ini, aku merasa sedih, sendiri, dan lupa diri.

Bolehkah aku bercerita tentang luka yang masih belum sembuh, dan kesepian yang masih melanda hatiku yang seharusnya bahagia? Bolehkah aku melepaskan kesedihanku padamu? Bolehkah aku menyatakan, bahwa aku masih terluka dan aku tidak sanggup berjalan lagi? Bolehkah aku beristirahat sejenak untuk pulihkan hati?

Aku tidak punya siapa-siapa untuk berkeluh kesah. Mungkin ada yang bersedia mendengarkan, tapi rasanya tidak akan sama seperti bagaimana aku membuka hatiku padamu. Jadi, izinkan aku bercerita dengan air mata mengalir. Perkenankan aku untuk memperlihatkan kelemahanku. Perkenankan aku yang selalu ucapkan kata semangat, kini menangis di pelukanmu. Biarkan aku sejenak merasa lemah.

Jujur, aneh rasanya, ketika dipertemukan kembali dengan seseorang yang dulu pernah mengisi hari-hariku dengan tawa. Dulu sedekat nadi, kini sejauh matahari. Aku tidak berani bersuara, pun tidak berani menyapa. Aku takut. Takut luka yang belum sembuh dan rasa yang aku simpan kembali meluap bagai petasan. Aku dan dia tidak akan pernah bisa kembali menyatu seperti dulu.

Namun, iya, aneh rasanya, ketika aku temukan sepertinya ada sosok aku yang baru di sampingnya. Aku yang dulu paling mengerti dia, kini ada yang menjadi seseorang yang paling mengerti dirinya juga. Aneh, rasanya aneh. Ini kali pertama aku merasakan ini. Jadi, jangan ucapkan kata apa pun, karena aku hanya ingin bercerita.

Aku yang dulu menjadi seseorang yang melindunginya di dalam permainan, kini dia sudah miliki seseorang yang baru. Seseorang yang bersedia mati untuknya, walau dulu aku juga begitu. Tapi kamu tahu, tampaknya perjuanganku dulu hanya sia-sia, karena aku hanya tinggal dalam masa lalunya saja. Bukan masalah, setidaknya aku pernah hidup di dalam hatinya. Tidak apa, setidaknya aku pernah menjadi bagian dari rasa yang tersimpan dalam memori hidupnya.

Aku hanya bingung. Tidak apa bukan, jika aku merasa aneh? Awalnya hanya aneh saja, tapi semakin lama rasanya semakin sedih. Bukan soal aku ingin kembali menjadi seseorang yang ada di sampingnya, hanya saja rasanya sedih karena semua hanya tinggal memori. Aku sedih, karena aku sudah terganti dan hanya menjadi memori. Aku hanya menjadi salah satu serpihan memori di masa lalu yang harusnya dilupakan.

Ketika perhatian yang dulu menjadi milikku, kini bukan lagi tentang aku.
Ketika candaan yang semula diperuntukkan bagiku, kini bukan lagi untuk aku.
Ketika pemeran utamanya seharusnya aku, kini bukan lagi aku yang diutamakan.

Aneh, rasanya. Jadi, ini rasanya patah lagi untuk kesekian kali. Ini rasanya ketika benteng pertahananku hancur sehancur-hancurnya untuk kesekian kali. Ini rasanya hanya hidup di masa lalu seseorang yang pernah menjadi harapan dan masa depan. Kini, aku sadar diri, bahwa aku sudah terganti.

Jadi, biarkan aku merasa lemah, dan izinkan aku untuk melupa untuk sementara.

Dari Senjakala (2021).

Sabtu, April 24, 2021

224 ㅡ Yang putus, kandas?

Yang putus, kandas.
Katanya.

Ketika lama sudah tak pernah bersua,
kini kembali dipertemukan semesta di ruang yang sama.

Aku belum benar-benar lupa,
masih berpura-pura lupa.

Hai, apa kabar? Lama tidak berjumpa. Bagaimana keadaanmu di sana? Sudahkah kamu temukan aku yang baru? Atau kamu masih mencari seseorang yang bisa gantikan aku di dalam hidupmu.

Klise.

Tidak, bukan itu yang aku katakan saat setelah sekian lama, akhirnya kami berjumpa lagi. Aku hanya terdiam, takut salah bicara. Aku hanya membisu, takut kata rindu meluap di luar kemampuanku. Jadi, tak ada satu pun kata salam yang aku ucapkan saat kami kembali dipertemukan oleh semesta di ruang yang sama.

Lucu, ya. Selama ini aku berusaha menyibukkan diri, berharap tidak perlu lagi tahu soal apa pun tentang kenangan dan patah sepatah-patahnya yang pernah aku rasakan. Aku berusaha menguatkan diri dengan melupa yang tidak benar-benar aku lakukan, tapi semesta hancurkan benteng pertahananku dengan begitu mudah. Seketika kepercayaan diri untuk melangkah pergi, terhenti karena memori masa lalu kembali merengkuhku.

Aku tidak tahu, dan sesungguhnya tidak perlu tahu tentang diriku di dalam hatinya, karena cerita kami sudah usai. Tapi satu hal yang aku tahu, perasaan ini sungguh di luar logika. Aku tidak mengerti arti rencana semesta yang begitu di luar dugaan. Benteng pertahananku hancur, dan sekarang aku tidak tahu harus berjalan ke mana.

Salam hangat,
Senjakala.

Jumat, April 23, 2021

223 ㅡ Teman jiwa sudah hidup di dalam diri satu sama lain.

Teman jiwa tidak akan bertemu di suatu tempat;
pada akhirnya, sebab selama ini...
mereka sudah hidup di dalam diri satu sama lain.

Salam hangat,
Senjakala.

Kamis, April 22, 2021

222 ㅡ Kamu akan menjadi sangat istimewa.

Aku tersenyum saat kita pertama kali bertemu,
karena aku tahu suatu hari nanti;
kamu akan menjadi sangat istimewa.

Salam hangat,
Senjakala.

Rabu, April 21, 2021

221 ㅡ Semuanya jatuh di tempat yang seharusnya.

Aku ingat bagaimana kamu tersenyum padaku;
saat pertama kali kita bertemu,
dan semuanya jatuh di tempat yang seharusnya.

Salam hangat,
Senjakala.